Home Investasi 3 Tips Cerdas Investasi Reksadana Pendapatan Tetap

3 Tips Cerdas Investasi Reksadana Pendapatan Tetap

50
0
Tips Investasi Reksadana Pendapatan Tetap

Tips cerdas investasi Reksadana pendapatan tetap. Sebelum kami menyampaikan terkait tips di reksadana pendapatan tetap, perlu anda pahami bahwa yang pertama, saya sudah bicara mengenai bagaimana strategi berinvestasi pada reksadana saham, yang kedua, saya juga sudah berbicara mengenai reksadana pasar uang. Nah, yang ketiga, saya akan membahas kepada Anda semua, Reksadana pendapatan tetap. Jadi, silakan Anda membaca artikel ini dengan sebaik-baiknya ya. Buka juga : Apa itu Reksadana? Plus Minus dan Cara Belinya

Oke, reksadana pendapatan tetap, ini kadang-kadang menjadi satu persepsi yang salah bagi masyarakat bahwa yang namanya reksadana pendapatan tetap memberikan pendapatan ke kantong Anda secara tetap, padahal jawabannya, tidak. Semua reksadana, seperti reksadana pasar uang, reksadana pendapatan tetap, reksadana campuran, reksadana saham, bisa naik dan juga bisa turun. Tidak ada yang memberikan pendapatan tetap ke kantong Anda.

Tentang Reksadana Pendapatan Tetap

Loh? loh? loh? Kalau begitu, kenapa namanya Reksadana Pendapatan Tetap? Oke, bahasa Inggris dari Reksadana Pendapatan Tetap, adalah Fix Income. Fix Income itu datangnya dari mana? Nah, yang namanya Fix Income itu datangnya dari obligasi atau bon. Dimana bon itu adalah surat hutang, dan yang namanya surat hutang itu memang disuruh wajib bayar kan?

Beda antara orang punya saham sama punya hutang. Kalau orang punya hutang, itu harus bayar setiap bulan, ada jangka waktu (term) pembayarannya berapa persen perbulan, tapi kalua yang namanya saham, itu tidak ada kepastian. Dia mendapatkan keuntungan apabila perusahaannya untung dan membagikan keuntungannya, berupa deviden. Dan jika perusahaan rugi, maka pemilik saham tidak akan mendapatkan apa-apa.

Oleh karena itu, bicara mengenai reksadana pendapatan tetap, yaitu tidak jauh-jauh dari yang namanya surat hutang. Kalau reksadana pasar uang adalah surat hutang yang kurang dari satu tahun. Sedangkan reksadana pendapatan tetap adalah surat hutang yang masih lebih dari pada satu tahun, yang dipilih oleh Asset Management Investasi atau Fund Manager bagi Anda. Diracik sedemikian rupa agar memberikan pertumbuhan yang cukup menarik.

Contoh Ilustrasi Reksadana Pendapatan Tetap

Bagaimana kita coba ambil contoh saja agar Anda tidak bingung. Ambil satu contoh untuk reksadana pendapatan tetap, namanya adalah Phillip Government Bond. Phillip Government Bond secara snapshot (singkat), di tanggal saya memberikan edukasi ini, adalah pada tanggal 24 Juli 2018. Perlu kami sampaikan tanggal, karena tanggal yang menjadi berbeda, akan menghasilkan return menjadi berbeda pula ya. Namun, anda tetap membutuhkan contoh yang nyata. Buka juga : Belajar Investasi dari Leonard Blavatnik (Investor Ternama AS)

Adapun data yang ada pada tanggal tersebut yaitu :
1 hari = 0.19%
1 bulan = -0.96%
3 bulan = -2.83%
6 bulan = -4.84%
Year to Date = -5.93%
1 tahun = 1.46%
3 tahun = belum ada

Tips Investasi Reksadana Pendapatan Tetap

3 tahunnya belum ada, karena Phillip Government Bond dibuat atau pertama kali efektif untuk bisa Anda miliki adalah pada tanggal 23 Maret 2017. Artinya, pada tahun 2018 sekarang, belum ada kinerja selama tiga tahunnya, karena usianya baru satu tahun. Saya memastikan bahwa satu bulan, tiga bulan, enam bulan, year to date, dari awal tahun ke sini, orang beli bukan untung, tapi minus. Loh? Kok nakutin banget?

Investasi itu yang bagus adalah Anda ngerti risikonya dan Anda nikmati keuntungannya. Yang menjadi masalah adalah banyak investor yang bicara untungnya, tapi tidak pernah tahu risiko yang bisa terjadi dibelakangnya. Jadi, ini yang selalu saya kemukakan.

Nah, kita balik lagi dengan contoh, Phillip Government Bond, memang secara kinerja 6 bulan dan Year To Date minus. Tapi, satu tahunnya masih plus. Nah, mungkin Anda akan bilang, “Loh? Kalau gitu tidak terlalu menarik dong bisa minus?” “Kenapa tidak plus saja?”

Oke, jadi kita harus tahu dulu, pada saat saya menyusun artikel ini, yaitu dari awal tahun 2018, sampai dengan bulan Juli 2018, terjadi kenaikan dari pada suku bunga acuan. Kenaikan suku bunga acuan, yang mengalami kenaikan, tentunya akan membuat atau mempengaruhi kerja daripada surat hutang.

Contoh, saya mau hutang sama Anda. Anda akan tanya sama saya, “Kamu mau hutang sama saya?” “Iya”. “Berapa kamu mau kasih bunga?” Saya bilang, “4%”.

Anda mau ngga kira-kira hutangin saya? Jawabannya ngga mau. Kenapa? Daripada saya ngutangin Kamu 4%, lebih baik pergi ke bank, saya depositokan uang saya. Saya dapat lebih tinggi dan saya lebih bebas dari deg-degan, daripada saya ngutangin kamu. Kenapa?

Anda pergi ke bank, ditanggung LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) sampai dengan 2 miliar Anda ditanggung. Tinggal makan dan minum, satu tahun, beres. Pasti Anda dibayar, kecuali banknya likuidasi, maka masuk lagi ke dalam tanggungan LPS.

Tips Investasi Reksadana Pendapatan Tetap

Tapi, jika Anda ngutangin saya 4%, apakah Anda akan melihat itu menjadi lebih menarik daripada ke bank? Jawabannya, tidak, karena tentunya, kemungkinan saya gagal bayar lebih tinggi daripada bank. Karena bank diawasi oleh OJK, sedangkan Anda tidak mengawasi saya.

Oke, nah, sekarang dibalik, kalau gitu, bagaimana caranya agar saya menjadi lebih menarik daripada bank kepada Anda? Jawabannya, ya udah saya pinjam uang ke kamu nanti akan saya kasih bunga 9%.

Anda akan berhitung, bahwa suku bunga itu kan 4,5%, sedangkan Saya memberikan bunga 9%, oke juga ya? Saya cukup bagus orangnya, bisa dipercaya. Akhirnya, ya udah saya pinjemin.” Betul tidak? Tiba-tiba penilaian Anda berubah karena kupon yang lebih besar, karena bunganya yang lebih besar. Buka juga : 5 Peluang Usaha Rumahan Dengan Modal Pas-Pasan

Nah, sekarang menjadi kondisi yang berbeda, setelah Anda meminjamkan uang ke saya. Tiba-tiba bank bilang, “Oke, kalau gitu karena kenaikan suku bunga acuan dari Bank Indonesia, maka saya akan naikkan (deposito) menjadi 8%”.

Apa yang terjadi dengan Anda ketika menjamin dengan saya 9%?
Tiba-tiba merasa agak menyesal minjemin uang ke saya. Kenapa?
Loh, kemarin saya pinjam dengan bunga 9%,
Sekarang ditinggal duduk manis aja dapat 8% dikasih bank?
Lalu, anda pasti akan berpikir, siapa ya yang mau beli surat hutang saya yang sudah anda kasih ke saya?
Udahlah saya kasih saja deh, betul?
Anda lebih baik ambil yang 8% (karena duduk manis dan dijamin LPS) daripada yang 9% yang tidak dijamin oleh siapapun?

Secara logika, ini lah yang terjadi dalam kondisi sehari-hari pada Reksadana pendapatan tetap. Tidak jauh berbeda dengan ilustrasi yang saya berikan. Bunga acuan Bank Indonesia mengalami kenaikan, dan surat hutang-surat hutang yang dipegang oleh Manajer Investasi sebelum kenaikan suku bunga akan menjadi tidak terlalu menarik.

Contoh, Phillip Government Bond, didalamnya ada salah satu surat utang obligasi yang dipegang oleh Phillip Government Bond adalah FR0063. Kalau Anda cek di google, maka Anda akan mendapatkan kupon sebesar 5,625. 5,625 dengan suku bunga yang baru saja naik 50 poin, mengalami kenaikan dua kali, maka akan menjadi sangat kecil.

Ketika sangat kecil tersebut, maka orang yang mempunyai investasi di Phillip Government Bond akan cenderung berpikir daripada memiliki surat hutang, lebih baik surat hutangnya dijual. Ambil yang lebih aman, yaitu deposito.

Tips Cerdas Investasi Reksadana Pendapatan Tetap

Apa yang terjadi dengan banyaknya yang mau jual surat hutang? Ketika barang mau dijual akan mengalami penurunan, disitulah kemungkinan nilai minus yang terjadi pada reksadana pendapatan tetap. Apakah ada risiko? Tidak ada, selama Anda investasi reksadana mengikuti jatuh tempo dari obligasinya. Ini menjadi sangat teknis dan sangat rumit. Buka juga : 5 Tips Mudah Berinvestasi Emas Dengan Gaji Pas-pasan

Oleh karena itu, berikut ini adalah 3 tips ketika anda berinvestasi pada Reksadana pendapatan tetap, antara lain :

1. Reksadana pendapatan tetap bukan reksadana yang memberikan pendapatan secara tetap untuk Anda.

Tips Investasi Reksadana Pendapatan Tetap

2. Reksadana pendapatan tetap, dimana ketika Anda berinvestasi pada reksadana pendapatan tetap, sebenarnya, disarankan paling tidak 2-3 tahun. Kenapa? Karena surat hutang-surat hutang yang dibuat, yang sifatnya kepada pemerintah, biasanya jatuh temponya 3 tahunan. Otomatis akan kembali nilainya sesuai dengan pokok pinjamannya.

Naik dan turunnya nilai, hanya terjadi karena pasar sekunder atau pasar setelah pelepasan yang perdana primary listing, sehingga, Anda tidak perlu merasa fluktuasi naik turun selama Anda beli dan selesainya pada saat jatuh tempo yang sama. Oleh karena itu, secara identiknya akan lebih baik Anda 3 tahun berinvestasi pada reksadana pendapatan tetap.

3. Jangan pernah berinvestasi untuk satu tahun dan mengambil reksadana pendapatan tetap, tapi kalau Anda ingin investasi diatas 3 tahun, atau katakanlah 5 tahun, maka jawabannya adalah lebih baik Anda ambil reksadana campuran, atau reksadana saham.

Kesimpulan Berinvestasi di Reksadana Pendapatan Tetap

Semoga Anda bisa mendapatkan benang merah, suatu konsep-konsep yang selama ini ada pada Reksadana Pendapatan Tetap. Anda tetap harus menjadi seorang investor yang cermat dan cerdas. Semoga artikel kami terkait tips cerdas berinvestasi pada reksadana pendapatan tetap ini bermanfaat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here